Minggu, 18 November 2012

Asuhan Keperawatan Apendisitis



APPENDISITIS

I.                   PENGERTIAN
Appendisitis adalah inflamasi akut pada appendisits verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner & Suddart, 1997)

II.                ETIOLOGI
Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh:
a.       Fekalis/ massa keras dari feses
b.      Tumor, hiperplasia folikel limfoid
c.       Benda asing

III.             PATOFISIOLOGI
Appendisitis yang terinflamasi dan mengalami edema. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intra luminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif dalam beberapa jam, trlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Appendiks terinflamasi berisi pus

IV.             PATHWAYS
                  Lampiran, Download di Bawah Pembahasan
V.                TANDA DAN GEJALA
·      Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
·      Mual, muntah
·      Anoreksia, malaisse
·      Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
·      Spasme otot
·      Konstipasi, diare
(Brunner & Suddart, 1997)

VI.             PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
·      Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/mm3, netrofil meningkat sampai 75%
·      Urinalisis         : normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada
·      Foto abdomen: Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir
·      Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah
(Doenges, 1993; Brunner & Suddart, 1997)

VII.          KOMPLIKASI
·      Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks
·      Tromboflebitis supuratif
·      Abses subfrenikus
·      Obstruksi intestinal



VIII.       PENATALAKSANAAN
·      Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan
·      Antibiotik  dan cairan IV diberikan sampai pembedhan dilakukan
·      Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan
Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
(Brunner & Suddart, 1997)

IX.             PENGKAJIAN
1.      Aktivitas/ istirahat: Malaise
2.      Sirkulasi : Tachikardi
3.      Eliminasi
·         Konstipasi pada  awitan awal
·         Diare (kadang-kadang)
·         Distensi abdomen
·         Nyeri tekan/lepas abdomen
·         Penurunan bising usus
4.      Cairan/makanan : anoreksia, mual, muntah
5.      Kenyamanan
Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam
6.      Keamanan : demam
7.      Pernapasan
·      Tachipnea
·      Pernapasan dangkal
(Brunner & Suddart, 1997)


X.    DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1.      Resiko tinggi terjadi infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan utama, perforasi,peritonitis sekunder terhadap proses inflamasi
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria:
·      Penyembuhan luka berjalan baik
·      Tidak ada tanda infeksi seperti eritema, demam, drainase purulen
·      Tekanan darah >90/60 mmHg
·      Nadi < 100x/menit dengan pola dan kedalaman normal
·      Abdomen lunak, tidak ada distensi
·      Bising usus 5-34 x/menit
Intervensi:
a. Kaji dan catat kualitas, lokasi dan durasi nyeri. Waspadai nyeri yang menjadi hebat
b.      Awasi dan catat tanda vital terhadap peningkatan suhu, nadi, adanya pernapasan cepat dan dangkal
c.       Kaji abdomen terhadap kekakuan dan distensi, penurunan bising usus
d.      Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik
e.       Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka/drain, eriitema
f.       Kolaborasi: antibiotik

2.      Nyeri b.d distensi jaringan usus oleh onflamasi, adanya insisi bedah
Kriteria hasil:
·         Persepsi subyektif tentang nyeri menurun
·         Tampak rileks
·         Pasien dapat istirahat dengan cukup
Intervensi:
a.       Kaji nyeri. Catat lokasi, karakteristik nyeri
b.      Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler
c.       Dorong untuk ambulasi dini
d.      Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat untuk membantu melepaskan otot yang tegang
e.       Hindari tekanan area popliteal
f.       Berikan antiemetik, analgetik sesuai program
3.      Resiko tinggi kekurangan cairan tubuhb.d inflamasi peritoneum dengan cairan asing, muntah praoperasi, pembatasan pasca operasi
Kriteria hasil;
·      Membran mukosa lembab
·      Turgor kulit baik
·      Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam
·      Tanda vital stabil
Intervensi:
a.       Awasi tekanan darah dan tanda vial
b.      Kaji turgor kulit, membran mukosa, capilary refill
c.       Monitor masukan dan haluaran . Catat warna urin/konsentrasi
d.      Auskultasi bising usus. Catat kelancara flatus
e.       Berikan perawatan mulut sering
f.       Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi
g.      Berikan cairan IV dan Elektrolit

4.      Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan  b.d kurang informasi
Kriteria:
·   Menyatakan pemahamannya tentang proese penyakit, pengobatan
·   Berpartisipasidalam program pengobatan
Intervensi
a.       Kaji ulang embatasan aktivitas paska oerasi
b.      Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahatperiodik
c.       Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi
d.      Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh peningkatan nyeri, edema/eritema luka, adanya drainase
(Doenges, 1993)



DAFTAR PUSTAKA


1.      Doenges, Marilynn E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta. EGC

2.      Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC

3.      Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart.  Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC

4.      Swearingen. (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. K\Jakarta. EGC

Pathway...Download disini...Mirror
readmore »»  

Asuhan Keperawatan Anemia


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal.

B.     Tujuan

  1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan anemia
  1. Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu mengetahui pengertian anemia.
b.      Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab anemia.
c.       Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul pada pasien anemia.
d.      Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan anemia.

BAB II
DASAR TEORI

A.    Definisi
Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari nilai normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht <37 % pada wanita. (Arif Mansjoer,dkk. 2001)
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah, 1997)

B.     Etiologi
Penyebab anemia antara lain :
1.      Perdarahan
2.      Kekurangan gizi seperti : zat besi, vitamin B12, dan asam folat. (Barbara C. Long, 1996 )
3.      Penyakit kronik, seperti gagal ginjal, abses paru, bronkiektasis, empiema, dll.
4.      Kelainan darah
5.      Ketidaksanggupan sum-sum tulang membentuk sel-sel darah. (Arif Mansjoer, 2001)

C.     Klasifikasi
Secara patofisiologi anemia terdiri dari :
1.      Penurunan produksi : anemia defisiensi, anemia aplastik.
2.      Peningkatan penghancuran : anemia karena perdarahan, anemia hemolitik.
Secara umum anemia dikelompokan menjadi :
  1. Anemia mikrositik hipokrom
a.       Anemia defisiensi besi
Untuk membuat sel darah merah diperlukan zat besi (Fe). Kebutuhan Fe sekitar 20 mg/hari, dan hanya kira-kira 2 mg yang diserap. Jumlah total Fe dalam tubuh berkisar 2-4 mg, kira-kira 50 mg/kg BB pada pria dan 35 mg/kg BB pada wanita. Anemia ini umumnya disebabkan oleh perdarahan kronik. Di Indonesia banyak disebabkan oleh infestasi cacing tambang (ankilostomiasis), inipun tidak akan menyebabkan anemia bila tidak disertai malnutrisi. Anemia jenis ini dapat pula disebabkan karena :
Ø  Diet yang tidak mencukupi
Ø  Absorpsi yang menurun
Ø  Kebutuhan yang meningkat pada wanita hamil dan menyusui
Ø  Perdarahan pada saluran cerna, menstruasi, donor darah
Ø  Hemoglobinuria
Ø  Penyimpanan besi yang berkurang, seperti pada hemosiderosis paru.
b.      Anemia penyakit kronik
Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenic anemia with reticuloendothelial siderosis. Penyakit ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi seperti infeksi ginjal, paru ( abses, empiema, dll ).
  1. Anemia makrositik
a.       Anemia Pernisiosa
Anemia yang terjadi karena kekurangan vitamin B12 akibat faktor intrinsik karena gangguan absorsi yang merupakan penyakit herediter autoimun maupun faktor ekstrinsik karena kekurangan asupan vitamin B12.
b.      Anemia defisiensi asam folat
Anemia ini umumnya berhubungan dengan malnutrisi, namun penurunan absorpsi asam folat jarang ditemukan karena absorpsi terjadi di seluruh saluran cerna. Asam folat terdapat dalam daging, susu, dan daun – daun yang hijau.
  1. Anemia karena perdarahan
a.       Perdarahan akut
Mungkin timbul renjatan bila pengeluaran darah cukup banyak, sedangkan penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari kemudian.
b.      Perdarahan kronik
Pengeluaran darah biasanya sedikit – sedikit sehingga tidak diketahui pasien. Penyebab yang sering antara lain ulkus peptikum, menometroragi, perdarahan saluran cerna, dan epistaksis.
  1. Anemia hemolitik
Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah ( normal 120 hari ), baik sementara atau terus menerus. Anemia ini disebabkan karena kelainan membran, kelainan glikolisis, kelainan enzim, ganguan sistem imun, infeksi, hipersplenisme, dan luka bakar. Biasanya pasien ikterus dan splenomegali.
  1. Anemia aplastik
Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang untuk membentuk sel-sel darah. Penyebabnya bisa kongenital, idiopatik, kemoterapi, radioterapi, toksin, dll.

D.    Manifestasi Klinis
Gejala-gejala umum yang sering dijumpai pada pasien anemia antara lain : pucat, lemah, cepat lelah, keringat dingin, takikardi, hypotensi, palpitasi. (Barbara C. Long, 1996). Takipnea (saat latihan fisik), perubahan kulit dan mukosa (pada anemia defisiensi Fe).  Anorexia, diare, ikterik sering dijumpai pada pasien anemia pernisiosa (Arif Mansjoer, 2001)


E.     Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium ditemui :
1.      Jumlah Hb lebih rendah dari normal ( 12 – 14 g/dl )
2.      Kadar Ht menurun ( normal 37% - 41% )
3.      Peningkatan bilirubin total ( pada anemia hemolitik )
4.      Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi
5.      Terdapat pansitopenia, sumsum tulang kosong diganti lemak ( pada anemia aplastik )


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN.
1.      Aktifitas / Istirahat
·         Keletihan, kelemahan, malaise umum.
·         Kehilangan produktifitas, penurunan semangat untuk bekerja
·         Toleransi terhadap latihan rendah.
·         Kebutuhan untuk istirahat dan tidur lebih banyak
2.      Sirkulasi
·         Riwayat kehilangan darah kronis,
·         Riwayat endokarditis infektif kronis.
·         Palpitasi.
3.      Integritas ego
·         Keyakinan agama atau budaya mempengaruhi pemilihan pengobatan, misalnya: penolakan tranfusi darah.
4.      Eliminasi
·         Riwayat pielonenepritis, gagal ginjal.
·         Flatulen, sindrom malabsobsi.
·         Hematemesi, melana.
·         Diare atau konstipasi
5.      Makanan / cairan
·         Nafsu makan menurun
·         Mual/ muntah
·         Berat badan menurun
6.      Nyeri / kenyamanan
·         Lokasi nyeri  terutama di daerah abdomen dan kepala.
7.      Pernapasan
·         Napas pendek pada saat istirahat maupun aktifitas
8.      Seksualitas
·         Perubahan menstuasi misalnya menoragia, amenore
·         Menurunnya fungsi seksual
·         Impotent



B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN.
  1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen / nutrisi ke sel.
·         Ditandai dengan:
-        Palpitasi,
-        kulit pucat, membrane mukosa kering, kuku dan rambut rapuh,
-        ekstremitas dingin
-        perubahan tekanan darah, pengisian kapiler lambat
-        ketidakmampuan berkonsentrasi, disorientasi
·         Tujuan : menunjukkan perfusi jaringan yang adekuat
  1. Intoleran aktifitas  berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen
·         Ditandai dengan:
-        Kelemahan dan kelelahan
-        Mengeluh penurunan aktifitas /latihan
-        Lebih banyak memerlukan istirahat /tidur
-        Palpitasi,takikardi, peningkatan tekanan darah,
·         Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas.
  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna, absorbsi makanan.
·         Ditandai dengan:
-        Penurunan berat badan normal
-        Penurunan turgor kulit, perubahan mukosa mulut.
-        Nafsu makan menurun, mual
-        Kehilangan tonus otot
·         Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi yang dikuti dengan peningkatan berat badan.
  1. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan jumlah makanan, perubahan proses pencernaan , efek samping penggunaan obat
·         Ditandai dengan :
-        Adanya perubahan pada frekuensi, karakteristik, dan jumlah feses
-        Mual, muntah, penurunan nafsu makan
-        Nyeri abdomen
-        Ganguan peristaltik
·         Tujuan: pola eliminasi normal sesuai dengan fungsinya



  1. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan pertahanan skunder yang tidak adekuat.
·         Ditandai dengan  tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala- gejala yang membuat diagnosa actual
·         Tujuan: terjadi  penurunan resiko infeksi

C.    INTERVENSI
·         Diagnosa 1
1.      Kaji tanda-tanda vital, warna kulit, membrane mukosa, dasar kuku
2.      Beri posisi semi fowler
3.      Kaji  nyeri dan adanya palpitasi
4.      Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh pasien
5.      Hindari penggunaan penghangat atau air panas
Kolaborasi:
1.      Monitor pemeriksaan laboratorium misal Hb/Ht dan jumlah SDM
2.      Berikan SDM darah lengkap /pocket
3.      Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi
·         Diagnosa 2
            1  Kaji kemampuan aktifitas pasien
            2  Kaji tanda-tanda vital saat melakukan aktifitas
3. Bantu kebutuhan aktifitas pasien jika diperlukan
4. Anjurkan kepada pasien untuk menghentikan aktifitas jika terjadi palpitasi
5 Gunakan tehnik penghematan energi misalnya mandi dengan duduk.
·         Diagnosa 3.
1  Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
2  Observasi  dan catat masukan makanan pasien
3. Timbang berat badan tiap hari
4  Berikan makanan sedikit dan frekuensi yang sering
5  Observasi mual, muntah , flatus dan gejala lain yang   berhubungan
6. Bantu dan berikan hygiene mulut yang baik
Kolaborasi:
1.      Konsul pada ahli gizi
2.      Berikan obat sesuai dengan indikasi misalnya: vitamin dan mineral suplemen.
3.      Berikan suplemen nutrisi
·         Diagnosa 4
1.      Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi  dan jumlah.
2.      Kaji bunyi usus
3.      Beri cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung
4.      Hindari makan yang berbentuk gas
5.      Kaji kondisi kulit perianal
Kolaborasi
1.      Konsul ahli gizi untuk pemberian diit seimbang
2.      Beri laksatif
3.      Beri obat anti diare
·         Diagnosa 5.
1.      Tingkatkan cuci tangan dengan baik
2.      Pertahan kan tehnik aseptik ketat pada setiap tindakan
3.      Bantu perawatan kulit perianal dan oral dengan cermat
4.      Batasi pengunjung
Kolaborasi
1.      Ambil spesemen untuk kultur
2.      Berikan antiseptic topikak, antibiotic sistemik

PENUTUP

A.    Kesimpulan
Anemia sering di jumpai di masyarakat dan mudah di kenali (di diagnosa ). Tanda dan gejalanya beragam, seperti pucat, lemah, maul,dll. Pendiagnosaan anemia dapat di tunjang dengan pemeriksaan laborat yakni adanya penurunan kadar Hb.
B.     Saran
Sebagai perawat kita harus mampu mengenali tanda – tanda anemia dan memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan anemia secara benar.


DAFTAR PUSTAKA
Ø  http://www.docstoc.com/docs/6600656/Askep-Anemia



readmore »»  

Kenalilah Aqidah'mu

Defenisi Bid'ah

Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.

Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ
شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa membuat - buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits No.1017. Demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas Islam, maka perbuatlah. Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal - hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman. Dan inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM.. (dst)” “hari ini Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, Ku-sempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al-Maidah : 3). Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan Rasul-Nya, alangkah sempurnanya Islam.

Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat – ayat lain turun, masalah hutang dll. Berkata Para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini, maka Musyrikin tidak lagi masuk Masjidil Haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh - boleh saja.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa - apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya. Inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat – buat hal baru yang berupa keburukan.. (dst)”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah Dhalalah).

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas – jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

Selanjutnya, download Pembahasannya disini, Mirror
readmore »»  

Aqidah Asy’ariyyah

Definisi Dan Sejarah Penamaan Ahlussunnah

Dalam tinjauan bahasa kata Ahlussunnah Wal Jama’ah tersusun dari tiga kata; Ahl, as-Sunnah, dan al-Jamâ’ah. Kata Ahl dalam pengertian bahasa adalah keluarga, golongan atau komunitas. Salah seorang pakar bahasa, al-Imâm Ar-Raghib al-Ashbahani dalam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân mengatakan bahwa penggunaan kata Ahl biasa dipakai pada perkumpulan beberapa orang yang mungkin disatukan oleh satu keturunan, satu agama, satu pekerjaan, satu rumah, satu negara, atau perkumpulan apapun. Namun pada dasarnya, dalam bahasa Arab jika dikatakan “Ahl ar-Rajul”, maka yang dimaksud adalah bahwa orang tersebut adalah bagian dari anggota keluarga yang sama-sama berasal dari satu tempat atau satu rumah. Sementara kata Ahl dalam pemaknaan yang lebih khusus adalah dalam pengertian nasab atau keturunan, seperti bila dikatakan “Ahl Bayt ar-Rajul”, maka yang dimasud adalah bahwa orang tersebut adalah bagian dari anggota yang berasal dari satu keturunan. Adapun penggunaan secara mutlak, seperti bila dikatakan “Ahl al-Bayt”, maka yang dimaksud adalah khusus keluarga Rasulullah dan keturunannya. Penyebutan secara mutlak semacam ini seperti dalam firman Allah:

( إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (الأحزاب: 33

Maknanya: “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan dari kalian wahai Ahl al-Bayt akan syirik (kufur) dan untuk mencucikan kalian” (QS. Al Ahzab: 33).


Selengkapnya, Download disini...Mirror
readmore »»